Sabtu
Langkah pertama adalah langkah terakhir
Oleh : J.
Krishnamurti
Langkah pertama
adalah langkah
terakhir. Langkah
pertama adalah
langkah persepsi
jernih, dan tindakan
persepsi jernih
adalah tindakan
terakhir. Ketika Anda
melihat suatu
bahaya, seekor ular,
persepsi itu sendiri
adalah tindakan
lengkap. Pahamkah
Anda?
Nah, kita berkata,
langkah pertama
adalah langkah
terakhir. Langkah
pertama adalah
untuk melihat
[perceive], melihat
apa yang Anda
pikirkan, melihat
ambisi Anda, melihat
kecemasan Anda,
kesepian Anda,
keputusasaan Anda,
rasa kesedihan yang
luar biasa ini,
melihatnya, tanpa
menyalahkan, mem-
benarkan, tanpa
menginginkan
supaya lain—hanya
melihatnya saja,
seperti apa adanya.
Bila Anda melihat itu
seperti apa adanya,
maka ada tindakan
yang berbeda sama
sekali yang
berlangsung, dan
tindakan itu adalah
tindakan terakhir.
Bukan? Artinya, bila
Anda melihat
sesuatu sebagai
salah atau benar,
persepsi itu sendiri
adalah tindakan
terakhir, yang adalah
langkah terakhir.
Bukan?
Nah, simaklah ini.
Saya melihat
kesalahan mengikuti
orang lain, ajaran
orang lain—Krishna,
Buddha, Kristus,
tidak peduli siapa
dia. Saya melihat ada
persepsi atau
kebenaran bahwa
mengikuti orang lain
adalah sama sekali
salah. Bukan? Oleh
karena akal budi
Anda, logika Anda,
dan segala sesuatu
menunjukkan betapa
absurdnya mengikuti
orang lain.
Nah,persepsi itu
adalah langkah
terakhir, dan bila
Anda sudah melihat,
Anda
meninggalkannya,
melupakannya, oleh
karena pada menit
berikutnya Anda
harus melihat lagi
yang baru, yang lagi-
lagi langkah terakhir.
Jika Anda tidak
melepaskan apa
yang telah Anda
pelajari, apa yang
Anda lihat, maka ada
kelanjutan dari
gerakan pikiran, dan
gerakan dan
kelanjutan dari
pikiran adalah
waktu. Dan bila batin
terperangkap dalam
gerakan waktu, itu
adalah ikatan.
Jadi, itulah salah
satu masalah utama,
yakni apakah batin
bisa bebas dari masa
lampau, penyesalan
lampau, kenikmatan
lampau, ingatan,
kenangan, kejadian
dan pengalaman,
segala sesuatu yang
telah kita bangun,
masa lampau, yang
adalah juga si
‘aku’. Si ‘aku’
adalah masa lampau.
Nah, pikiran memberi
kelanjutan pada
sesuatu yang telah
terlihat secara jelas,
dan karena tidak
bisa
mengesampingkanny
a, memberinya
kelanjut-an yang
menjadi alat untuk
melestarikan pikiran.
Anda mengalami
kejadian yang
menyenangkan
kemarin. Anda tidak
melupakannya, Anda
tidak
melepaskannya,
Anda membawa-
bawanya bersama
Anda, Anda
memikirkannya.
Berpikir tentang
sesuatu yang dari
masa lampau itu
sendiri memberikan
kelanjutan masa
lampau. Dengan
demikian, masa
lampau tidak pernah
berakhir. Anda
paham semua ini?
Tetapi, jika Anda
melihat bahwa Anda
mengalami kejadian
yang amat luar
biasa,
menyenangkan
kemarin, melihatnya,
mencerapnya
[perceive], dan
mengakhirinya
sepenuhnya, tidak
membawa-
bawanya, maka
tidak ada kelanjutan
sebagai masa
lampau yang telah
dibangun oleh
pikiran. Dengan
demikian, setiap
langkah adalah
langkah terakhir.
Pahamkah Anda?
Jadi, kita harus
menyelami masalah
apakah pikiran, yang
memberi kelanjutan
kepada ingatan
sebagai ingatan—
dan ingatan adalah
masa lampau—
apakah pikiran bisa
berhenti. Oleh karena
itu adalah bagian
dari meditasi. Itu
adalah bagian dari
perubahan
[mutation] total pada
sel-sel otak itu
sendiri, oleh karena
jika ada kelanjutan
dari gerakan pikiran,
itu adalah
pengulangan dari
yang usang, oleh
karena pikiran
adalah ingatan,
pikiran adalah
respons ingatan,
pikiran adalah
pengalaman, pikiran
adalah pengetahuan.
Jadi, masalah kita
adalah: pikiran selalu
melestarikan dirinya
melalui pengalaman,
melalui pengulangan
terus-menerus dari
ingatan-ingatan
tertentu.
Pengetahuan selalu
berada di masa
lampau, dan bila
Anda bertindak
menurut
pengetahuan, Anda
memberi kelanjutan
kepada pikiran;
tetapi Anda harus
punya pengetahuan
untuk bertindak
secara teknologis.
Tampakkah
kesulitannya?
Jika Anda tidak
menggunakan
pikiran, Anda tidak
bisa pulang ke
rumah, Anda tidak
bisa bekerja di
kantor. Anda mesti
punya pengetahuan,
tetapi juga lihat
pentingnya,
bahayanya suatu
batin yang
terperangkap di
dalam gerak pikiran
terus-menerus, dan
dengan demikian
tidak pernah melihat
sesuatu secara baru.
Pikiran selalu usang,
pikiran selalu
terkondisi, tidak
pernah bebas, oleh
karena ia bertindak
menurut masa
lampau.
Jadi, masalahnya
ialah: bagaimanakah
gerak pikiran ini,
yang pada satu
tingkat mutlak
diperlukan untuk
berfungsi secara
logis, waras, sehat,
bagaimanakah gerak
pikiran ini bisa
berakhir, bagi
manusia untuk
melihat sesuatu
yang sama sekali
baru, untuk hidup
secara lain sama
sekali?
Pendekatan yang
tradisional terhadap
masalah ini ialah
mengendalikannya,
menahannya, atau
belajar
berkonsentrasi.
Bukan? Ini lagi-lagi
adalah absurd,
karena siapakah si
pengendali?
Bukankah si
pengendali bagian
dari pikiran, bagian
dari pengetahuan
yang berkata, Anda
harus
mengendalikan?
Artinya, Anda telah
diajar untuk
mengendalikan.
Ada cara mengamati
pikiran tanpa suatu
pengendalian, tanpa
memberinya
kelanjutan,
melainkan
mengamatinya
sampai ia berakhir.
Pahamkah Anda
pertanyaan saya?
Oleh karena, jika
pikiran berlanjut,
batin tidak pernah
hening, dan hanya
ketika batin hening
sepenuhnya ada
kemungkinan bagi
persepsi.
Lihatlah kelogisan
hal ini. Artinya, jika
batin saya terus
berceloteh,
membandingkan,
menilai, mengatakan
ini benar, itu salah,
saya tidak
menyimak Anda.
Untuk menyimak
Anda, untuk
memahami apa yang
Anda katakan, saya
harus mem-berikan
perhatian, dan untuk
bisa memberikan
perhatian penuh,
perhatian itu sendiri
adalah keheningan.
Bukan?
Kita melihat begitu
jelas bahwa
keheningan sama
sekali perlu, bukan
hanya pada tingkat
permukaan, tetapi
juga pada tingkat
paling dalam; di
pusat diri kita harus
ada keheningan
penuh. Bagaimana ini
bisa terjadi?
Itu tidak mungkin
terjadi jika ada
sebentuk
pengendalian, oleh
karena dengan
demikian ada konflik,
oleh karena lalu ada
orang yang berkata,
“Saya harus
mengendalikan,”
dan ada yang harus
dikendalikan. Di situ
ada pemisahan, dan
di dalam pemisahan
itu ada konflik.
Dengan demikian,
mungkinkah bagi
batin untuk kosong
dan hening
sepenuhnya, bukan
berkelanjutan,
melainkan dari detik
ke detik?
Itulah persepsi
pertama, bahwa
batin harus hening
sepenuhnya.
Persepsi itu,
kebenaran itu dan
melihat kebenaran
itu adalah langkah
pertama dan
terakhir. Lalu
persepsi itu harus
diakhiri; kalau tidak,
Anda akan
membawa-
bawanya. Dengan
demikian, batin
harus mengamati,
harus eling tanpa
memilih akan setiap
persepsi, dan harus
ada pengakhiran dari
persepsi itu dengan
seketika, melihat
dan mengakhiri.
Paham-kah Anda ini?
Jadi batin tidak
hidup bersama
pikiran, yang adalah
respons dari masa
lampau, dan
memberikan
kelanjutan kepada
pikiran itu ke masa
depan, yang mungkin
menit berikutnya,
detik berikutnya.
Dan pikiran adalah
respons ingatan,
yang adalah struktur
sel-sel otak itu
sendiri. Jika Anda
pernah mengamati
batin Anda sendiri,
Anda akan melihat
bahwa di dalam sel-
sel otak itu sendiri
terdapat bahan
ingatan, dan ingatan
itu merespons, yang
adalah pikiran.
Untuk menghasilkan
perubahan
[mutation] total pada
kualitas sel itu
sendiri, harus ada
pengakhiran dari
setiap persepsi,
pemahaman,
melihat, bertindak
dan meninggalkan
itu, sehingga batin
selalu melihat dan
mati, melihat
kepalsuan dari
kebenaran itu dan
mengakhirinya dan
bergerak terus tanpa
membawa-bawa
ingatan. Bukan?
Semua ini menuntut
persepsi yang sangat
kuat, vitalitas, energi
yang sangat besar.
Untuk menyelami ini
selangkah demi
selangkah seperti
tengah kita lakukan,
tanpa terlewat satu
hal pun,
membutuhkan
energi sangat besar.
…
Bagaimana batin,
tanpa mengikuti
suatu sistem, tanpa
mengikuti suatu
paksaan, tanpa
pembandingan apa
pun, bagaimana
batin yang telah
terkondisi begitu
lama, bisa kosong
sepenuhnya dari
masa lampau? Anda
paham per-tanyaan
saya? Kosong
sepenuhnya
sehingga ia melihat
dengan jelas, dan
apa yang jelas
terlihat
mengakhirinya,
sehingga ia selalu
memperbarui dirinya
dalam kekosongan,
artinya,
memperbarui dirinya
dalam kepolosan
[innocence].
Nah, kata
‘kepolosan’
berarti batin yang
polos, batin yang tak
pernah bisa terluka.
Kata ‘kepolosan’
berasal dari sebuah
kata Latin yang
berarti tak dapat
terluka. Dan
kebanyakan dari kita
terluka, terluka
dengan segala
ingatan yang kita
timbun di sekitar
luka-luka itu,
penyesalan-
penyesalan kita,
kerinduan-kerinduan
kita, kesepian kita.
Ketakutan-
ketakutan kita
adalah bagian dari
rasa terluka ini.
Dari sejak kanak-
kanak kita terluka
secara sadar atau
tak sadar.
Bagaimana
mengosongkan
semua luka itu,
tanpa mengambil
waktu—Anda
paham?—tanpa
berkata, “Saya
akan berangsur-
angsur melenyapkan
luka itu”? Bila Anda
lakukan itu, Anda tak
akan pernah
mengakhirinya, Anda
mati pada akhirnya.
Jadi, masalahnya
ialah: bisakah batin
mengosongkan
dirinya sama sekali,
bukan saja di tingkat
permukaan, tetapi
juga di kedalaman
dirinya, pada
akarnya. Oleh karena
kalau tidak, kita
hidup di dalam
penjara, kita hidup di
dalam penjara sebab
dan akibat di dunia
perubahan ini.
Jadi Anda harus
mengajukan
pertanyaan ini,
mengajukan-nya
kepada diri Anda
sendiri: apakah batin
Anda bisa kosong
dari segenap masa
lampaunya, namun
tetap
mempertahankan
pengetahuan
teknologis,
pengetahuan
insinyur Anda,
pengeta-huan
bahasa Anda, ingatan
dari semua itu,
namun berfungsi dari
sebuah batin yang
kosong sepenuhnya?
Pengosongan batin
itu terjadi secara
alamiah, secara
manis tanpa disuruh,
bila Anda memahami
diri Anda, bila Anda
memahami apa diri
Anda itu. Diri Anda
adalah ingatan,
kumpulan ingatan,
pengalaman, pikiran.
Bila Anda memahami
itu, memandangnya,
mengamatinya, dan
bila Anda meng-
amatinya, melihat di
dalam pengamatan
itu tidak ada dualitas
antara si pengamat
dan yang diamati.
Maka bila Anda
melihat itu, Anda
akan melihat bahwa
batin Anda bisa
kosong sepenuhnya,
penuh perhatian. Dan
di dalam perhatian
itu, Anda bisa
bertindak secara
utuh, tanpa
keterpecahan
[fragmentation]
sedikit pun. Semua
itu adalah bagian
dari meditasi.
Dan bila Anda
memahami
sepenuhnya seluruh
keterpecah-an dari
diri Anda—bukan
keterpaduan
[integration]—
pahami-lah
bagaimana
keterpecahan dan
kontradiksinya
muncul, bukan
bagaimana
mempersatukannya
kembali. Anda tak
bisa melakukan itu.
Mempersatukan
menyiratkan ada
dualitas—orang
yang mengerjakan
itu, yang
memadukan, dan
sebagainya.
Maka bila Anda
sungguh-sungguh,
secara mendalam,
secara kuat
memahami diri Anda,
belajar tentang diri
Anda, maka Anda
bisa memahami
makna dari waktu,
waktu yang
mengikat, menahan,
yang menghasilkan
kesedihan.
Jika Anda telah
melangkah sejauh
itu—dan itu bukan
berarti Anda pergi
jauh dalam jarak—
jauh secara kata-
kata—bukan jauh
yang terukur—jika
Anda telah
melangkah sejauh
itu—bukan dalam
ketinggian maupun
kedalaman—jika
Anda telah sampai
pada ketinggian
pemahaman, dengan
kepenuhan itu, maka
Anda akan
mendapati sendiri
suatu dimensi yang
tak dapat diuraikan,
yang tidak punya
kata-kata, yang
bukan sesuatu yang
bisa dibeli dengan
pengorbanan, yang
tidak tercantum
dalam kitab-kitab,
yang tidak bisa
dialami oleh Guru
mana pun. Ia ingin
mengajar Anda
tentang itu,
bagaimana
mencapainya.
Dengan demikian,
kalau ia berkata,
“Saya telah
mengalami itu, dan
saya tahu apa itu,”
ia belum mengalami-
nya, ia tidak tahu
apa itu. Orang yang
berkata ia tahu,
tidak tahu. Jadi batin
harus bebas, dari
kata itu, gambaran
[image] itu, masa
lampau, dan itu
adalah langkah
pertama dan langkah
terakhir.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar