Dari Buku Journey of
souls, koleksi studi
kasus mengenai
kehidupan selama
jeda antar kehidupan
oleh Michael Newton
Phd.
Apa saja kesamaan
dari rekoleksi
(mengingat kembali)
kehidupan sesudah
kematian antara
orang-orang yang
melaporkan
pengalaman keluar
dari tubuh fisik
sebagai hasil dari
trauma fisik
temporer dengan
subjek terhipnotis
yang mengingat
kembali
kematiannya dalam
sebuah kehidupan
lampau? Keduanya
sama-sama
mendapati diri
mereka melayang
mengelilingi tubuh
masing-masing
secara aneh, dan
berusaha menyentuh
benda-benda padat
yang sifat
materialnya telah
hilang, di depan
mereka. Keduanya
sama-sama
mengaku frustasi
ketika mencoba
berbicara pada orang
hidup, yang tidak
memberikan respon.
Keduanya sama
sama merasakan
suatu sensasi ditarik
dari tempat di mana
mereka meninggal,
serta merasa relaks
dan ingin tahu
daripada merasa
takut.
Semua orang
melaporkan suatu
sensasi kebebasan
dan terang yang
membangkitkan
ektase di sekeliling
mereka. Sebagian
subjek menyaksikan
suatu cahaya putih
cemerlang yang
menyelimuti mereka
sepenuhnya pada
saat kematian,
sementara sebagian
lainnya melihat
cahaya yang terang
yang letaknya agak
jauh dari suatu
daerah gelap,
dimana mereka
sedang ditarik
melaluinya. Kondisi
ini sering disebut
sebagai efek lorong,
yang banyak dikenal
dari pengalaman
mati suri(NDE)
Bertentangan
dengan keyakinan
sebagian besar
orang, roh kerap kali
tidak memiliki
ketertarikan besar
pada apa yang
terjadi pada tubuh
mereka, begitu
mereka mati secara
fisik. Ini bukan
karena mereka tidak
memiliki keperdulian
atas situasi pribadi
dan orang-0rang
yang mereka
tinggalkan di Bumi,
tetapi lebih
dikarenakan oleh
pemahaman roh atas
tujuan dari kematian
fisik. Mereka ingin
bergegas melakukan
perjalanan
memasuki indahnya
alam roh.
Bagaimanapun
banyak roh lainnya
justru ingin
melayang di sekitar
tempat dimana
mereka mati selama
beberapa hari di
Bumi, biasanya
sampai proses
pemakaman mereka
usai. Walau
tampaknya
dipercepat bagi roh,
sehingga satu hari di
Bumi dapat terasa
bagaikan satu menit
bagi mereka. Ada
bermacam-macam
alasan bagi rohyang
seakan tidak mau
pergi ini. Sebagai
contoh, seseorang
yang telah dibunuh
atau meninggal
dalam suatu
kecelakaan
seringkali tidak mau
pergi saat itu juga.
Saya sering melihat
roh-roh ini merasa
bingung atau marah.
Sindrom roh
melayang sering
terjadi dalam kasus
kematian orang
muda.
Mendadak terpisah
dari tubuh fisik,
bahkan setelah lama
sakit, tetap menjadi
guncangan bagi rata-
rata roh dan hal
inipun sering
membuat roh
merasa ragu-ragu
untuk pergi pada
saat kematian.
Selain itu, ada
sesuatu yang
sifatnya simbolik
dari periode tiga
sampai lima hari
persiapan
pemakaman bagi
roh. Sesungguhnya
roh tidak memiliki
keingintahuan yang
melankolis untuk
menyaksikan diri
mereka
dimakamkan, karena
emosi di alam roh
tidaklah sama
dengan emosi yang
kita alami di Bumi.
Walaupun demikian,
saya menjumpai
bahwa roh
menghargai
penghormatan yang
diberikan kepada
kenangan atas
kehidupan fisik
mereka oleh kerabat
dan teman yang
masih hidup.
Satu alasan
mendasar mengapa
banyak roh yang
tidak ingin cepat-
cepat pergi
meninggalkan lokasi
kematian fisik
mereka adalah
karena adanya
keinginan untuk
secara mental
menghibur orang-
orang tercinta,
sebelum mereka
pergi jauh memasuki
alam roh. Orang yang
baru saja meninggal
tidaklah merasa
hancur hati karena
kematian itu, karena
mereka tahu bahwa
orang-orang tercinta
di Bumi akan
bertemu mereka lagi
di alam roh dan
mungkin juga kelak
dalam kehidupan
mendatang
(reinkarnasi). Di lain
pihak, para pelayat
dalam suatu
pemakaman
biasanya merasa
telah kehilangan
orang tercinta
mereka selamanya.
Selama hipnotis,
para subjek benar-
benar masih ingat
perasaan frustasi
karena tidak mampu
untuk dengan efektif
menggunakan energi
mereka, untuk
secara mental
menyentuh orang
hidup yang menjadi
tidak reseptif
(terbuka) akibat
trauma dan
kesedihan. Trauma
emosional pada
orang hidup dapat
mengaburkan pikiran
batin, hingga taraf
dimana kemampuan
mental mereka
untuk berkomunikasi
dengan roh menjadi
terhambat.
Manakala roh yang
baru saja terlepas
dari tubuhnya
menemukan cara
untuk memberikan
penghiburan pada
orang yg masih
hidup, sesingkat
apapun itu, mereka
biasanya merasa
puas dan kemudian
ingin secepatnya
beranjak dari
tataran astral Bumi.
Kita dapat
merasakan
kehadiran roh orang
tercinta yang penuh
daya penghiburan,
terutama selama
atau sesudah
pemakaman. Agar
komunikasi spiritual
ini dapat menembus
dinding trauma
akibat kesedihan,
anda perlu
merelaksasikan dan
menjernihkan
pikiran, setidaknya
sejenak. Pada saat-
saat seperti ini
tingkat penerimaan
kita terhadap suatu
pengalaman
supernatural
menjadi lebih
terbuka terhadap
komunikasi positif
seputar cinta,
pengampunan,
harapan, dorongan
semangat, dan
kepastian bahwa
orang tercinta Anda
kini berdiam di
tempat yang indah.
Sesekali terjadi, roh
yang belum tenang
tidak ingin
meninggalkan Bumi
setelah kematian
fisik. Hal ini
dikarenakan ada
suatu masalah yang
belum terselesaikan,
yang telah
berdampak besar
pada kesadarannya.
Pada kasus tidak
lazim seperti ini ,
bantuan dapat
diperoleh dari entitas
lebih tinggi/roh
pendamping yang
penuh belas kasih,
yang dapat
membantu proses
penyelarasan dari
alam lain. Kita juga
memiliki sarana
untuk membantu roh
yang resah ini dalam
melepas
keterikatannya
dengan Bumi.
Bagaimana baiknya
kita mempesiapkan
diri untuk
menghadapi
kematian kita
sendiri? Boleh saja
kita hidup singkat
atau panjang, sehat
atau sakit, namun
akan tiba masanya
ketika kita semua
harus menyongsong
ajal dengan cara
yang paling sesuai
untuk kita. Jika kita
telah lama
menderita sakit
parah yang dapat
berakibat pada
kematian, masih ada
waktu untuk
mempersiapkan
pikiran secara
memadai, begitu
trauma, penolakan,
dan frustasi di awal
kematian telah
berlalu. Pikiran
mengambil jalan
pintu melalui
progresi seperti ini
ketika kita
dihadapkan pada
kematian. Seiring
dengan kian
dekatnya akhir dari
kehidupan fisik kita
masing-masing
memiliki
kemampuan untuk
menyatu dengan
tataran kesadaran
yang lebih tinggi.
Periode menjelang
ajal adlaah periode
termudah dalam
hidup kita guna
mengalami
kesadaran spiritual,
dimana kita dapat
merasakan bahwa
roh kita terhubung
dengan keabadian
waktu.
Walaupun ada orang
yang merasa bahwa
penerimaan itu lebih
sukar daripada
penolakan ketika
mereka menghadapi
ajal, para perawat
yang bekerja di
sekitar mereka
menyatakan bahwa
hampir semua orang
merasakan
ketenangan saat
meninggal. Saya
percaya bahwa
orang yang
menjelang ajal selalu
diberi akses menuju
pemahaman akan
kesadaran yang
abadi, dan hal ini
kerap terlihat di raut
wajah mereka.
Orang yang
menjelang ajal
mengalami suatu
metamorfosis
keterpisahan roh
dari tubuh yang
ditinggalinya. Orang
menganggap
kematian sebagai
kehilangan daya
hidup, padahal
kebalikannyalah
yang benar. Kita
meninggalkan tubuh
kita dalam kematian,
tetapi daya hidup
kita yang kekal akan
menyatu dengan
daya dari Roh
Mahatinggi.
Kematian tidak
berarti gelap, namun
terang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar