Senin

Sisi gelap kepribadian kita

Oleh :
Lama Surya Das
Kita semua
dilahirkan dengan
sisi positif/cahaya/
terang dan juga sisi
gelap/bayangan.
Persis sebagaimana
tidak ada kanan
tanpa kiri, tidak ada
atas tanpa bawah,
tidak ada timur
tanpa barat, maka
cahaya tanpa
bayangan nyaris
merupakan
kontradiksi. Lihatlah
permainan terang
dan gelap di sekitar
kita. Di langit sendiri
ada bintang-bintang
cemerlang, tetapi
ada juga lubang-
lubang hitam yang
mustahil diteliti.
Beberapa orang
mengatakan hanya
Tuhan yang hidup
tanpa bayangan.
Tetapi jika Tuhan
adalah terang murni,
maka beberapa
orang mungkin
mengatakan bahwa
dunia itu sendiri
mewakili sisi
bayangan Tuhan.
Kehidupan spiritual
sendiri sering
didefinisikan sebagai
pencarian terang dan
pancaran. Tetapi jika
itu masalahnya, apa
yang kita lakukan
dengan kegelapan
yang kita semua
ketahui ada? Apa
yang kita lakukan
dengan bayang-
bayang personal kita
sendiri? Bagaimana
kita bisa
memadukan sisi
gelap dan terang
dalam diri kita
masing-masing?
Menurut Carl Jung,
sosok-sosok
bayangan ini bisa
didefinisikan sebagai
unsur-unsur
kepribadian terwakili
dimana kita memilih
untuk tidak
diidentifikasikan.
Bayangan itu adalah
sisi dalam dari
topeng-topeng
cemerlang yang kita
tampilkan pada
publik. Itu meliputi
bagian-bagian diri
kita sendiri yang kita
jaga agar tetap
tersembunyi,
kadang-kadang
bahkan dari kita
sendiri. Dan siapa
yang tidak
mempunyai rahasia
yang disimpan rapi di
berbagai almari jiwa
dan ingatan?
Cobalah menarik
kembali, menekan,
dan mengingkari sisi
gelap kepribadian
kita sendiri, maka
kita akan
menghadapi risiko
menarik unsur-unsur
dalam diri kita
sendiri dengan cara
lain.
Jangan membuat
kesalahan dengan
percaya bahwa hal
itu tidak mempunyai
arti nyata dalam
kehidupan kita
sendiri.
“Bayangan” itu
bukan sekedar
konsep kefilsafatan.
Ketika kita menjalani
hidup dari hari ke
hari, berkali kali kita
secara tidak sadar
bertemu dengan
bayang-bayang kita.
Mereka menggoda
kita, mereka
mempermainkan
kita. Mereka
menakut-nakuti kita,
dan membuat kita
muak. Mereka
datang dalam
berbagai bentuk dan
ukuran, dan mereka
menampakkan diri
dengan berbagai
cara tergantung
pada siapa kita ini
dan bagaimana
kehidupan kita.
Seseorang misalnya ,
bertemu dengan
bayangannya setiap
kali ia marah besar
pada istri atau anak-
anaknya, sehingga ia
tidak mampu
mengendalikan diri.
Atau orang lain tidak
mampu
mengendalikan
dirinya ketika ia
mabuk atau tidak
mampu
mengendalikan diri
ketika berdebat/
berkompromi dsb.
Pendek kata,
bayang-bayang kita
membuat kita
melakukan hal-hal
dan mengatakan ini
itu yang kita lebih
suka tidak akui.
Kita melihat bayang-
bayang beraksi di
sekitar kita. Koran-
koran, televisi,
dipenuhi cerita
tentang skandal dan
kata-kata munafik
tentang dan dari
para pemimpin, baik
agama, spiritual
maupun politis, yang
tidak mampu
mewujudkan
omongan mereka
dalam tindakan
nyata. Pemimpin-
pemimpin ini
mungkin terlindung
rapat di balik tameng
psikologis yang
berkilau seperti baja
tahan karat, namun
ada bercak-bercak
pada tameng itu;
unsur-unsur
bayangan selalu
bocor keluar.
Saya tidak percaya
bahwa kemunafikan
yang kita saksikan di
sekitar kita adalah
disengaja. Kita
melihatnya terjadi
karena sering kali
para pemimpin kita
memang tidak
mengenal diri
mereka sendiri.
Mereka begitu
disibukkan dengan
topeng-topeng dan
imaji-imaji yang
mereka hadapkan
pada dunia sehingga
mereka memilih
untuk mengingkari
dan menekan,
bukannya
mengkonfrontasi
dan mengatasi,
konflik-konflik
bayangan mereka.
Pengingkaran
macam ini
membuahkan
suasana hati mirip
neraka tersendiri.
Mungkin mereka
berusaha
memproyeksikan
kebaikan, tetapi
kebaikan ini jadi
dikaburkan.
Bayang-bayang juga
muncul dalam hidup
kita sebagai
proyeksi. Kita
melihat orang-orang
lain, dan kualitas-
kualitas yang
menonjol adalah
kualitas-kualitas
yang kita tidak sukai
atau yang kita tekan
atau tidak kita akui
dalam diri kita
sendiri. Sungguh,
sering kali kita
mengitari diri sendiri
dengan orang-orang
yang mempunyai
kualitas yang di
mata kita kurang
memuaskan. Banyak
orang misalnya ,
mempunyai banyak
teman yang
perilakunya mungkin
dipandang kurang
ideal dibanding
dengan dirinya.
Dianggap lebih tidak
bermoral dibanding
dirinya sendiri. Ia
kemudian dengan
keras menghakimi
orang-orang yang ia
pilih untuk diajak
bergaul. Tetapi
mengapa ia
meluangkan waktu
begitu banyak dalam
lingkungan itu ?
Kita semua pernah
berlaku seperti itu ,
dan bayangan itu
menjelaskan
sebabnya. Bayang-
bayang yang
terpendam
mendorong kita ke
tempat-tempat yang
mungkin kita tidak
inginkan. Semakin
kurang kemampuan
kita untuk
menghadapi
kegelapan personal
kita sendiri, siluman-
siluman kita sendiri,
maka semakin besar
dorongan kita untuk
menghadapi dan
menghayati mereka
dengan cara-cara
lain yang kurang
sadar. Kita mencari
bayang-bayang kita
dalam wajah orang-
orang lain; kita
mendekatkan
mereka pada kita.
Bayang-bayang kita
bisa menjadi sekutu
dan guru kita atau
lawan dan
penyerang kita.
Semakin sadar kita
pada apa yang ada
dalam diri kita,
positif atau negatif,
terang maupun
gelap, semakin besar
kemampuan kita
untuk menangani
hidup dengan cara
seimbang, waras dan
spiritual.
William James
mengatakan,
“Kesadaran biasa
kita hanyalah salah
satu bentuk
kesadaran. Di sekitar
kita ada dunia-dunia
yang tidak terbatas,
yang dipisahkan
hanya oleh cadar-
cadar tipis.”
Kedalaman dari
dunia-dunia
kegelapan yang
tidak terlihat, tidak
mewujud, dan
mustahil dilihat serta
yang kita takuti ini
hanyalah ekspresi
dari suatu realita
batin, pikiran yang
belum diselami dan
yang bekerja secara
bawah sadar dan
membisu. Kita
menemukan apa
yang ada di sana
hanya lewat
menyelami diri
sendiri, dengan
menggapai dan
menghadapkan apa
yang kita takuti pada
terang, persis
sebagaimana lautan
hanya membuka
rahasia-rahasianya
ketika kita bisa
menyelami
kedalalamannya,
jauh dibawah
permukaannya yang
berkilauan diterpa
sinar mentari.
Sisi gelap kita
maupun faset-faset
yang lebih terang
juga ada di sana
untuk memperkaya
dan menghidupi kita.
Mereka ada di sana
agar kita bisa belajar
dan berkembang.
Pesannya sudah
sangat jelas:
Selamilah dirimu
sendiri dan ubahlah
dirimu sendiri. Persis
sebagaimana Buddha
bertemu dengan
Mara sebelum
pencerahannya,
sering kali kita
berhadapan dengan
bayang-bayang
tergelap kita
sebelum subuh
merebak. Bulan
purnama di langit
gelap adalah simbol
pencerahan, tetapi
bulan sampai pada
keadaan itu sesudah
melengkapi suatu
siklus yang dimulai
dengan secercah
sinar yang muncul
dari kegelapan.
Yang selalu harus
kita camkan adalah
bahwa tidak satu hal
pun sepenuhnya
negatif atau tanpa
harapan, atau
akhirnya harus
ditangisi. Kita semua
tahu pepatah lama
ini : “Setiap awan
mempunyai
pinggiran
keperakan.”
Berbagai hal bisa
dibalik. Kita bisa
melihat terang.
Dalam keyakinan
inilah hidup kita
berkembang.
Ketika kita sampai
pada wawasan yang
lebih spiritual dan
lengkap mengenai
realita dan totalitas,
kita melihat bahwa
bayang-bayang itu
tak lain adalah juga
terang. Sebenarnya
yang disebut
kegelapan itu, atau
kedinginan, tidak
ada. Kedua hal ini
hanya didefinisikan
oleh kita dalam
hubungan dengan
besarnya terang,
energi, dan
kehangatan yang
ada atau tidak ada di
dalamnya. Hal ini
mencerminkan
prinsip spiritual yang
mengajari kita
bahwa yang ada
hanyalah terang dan
atau bahwa segala
sesuatu adalah
energi murni, arus
Tao, sifat alami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar