Selasa

Kembalilah pada yang sederhana dalam hidup

Pernah ada masa ketidaktahuan menjadi milik perjalanan manusia Menjalani kehidupan sebatas makan minum dan meninggalkan raga Rutinitas dan aktifitas telah mencapai puncak pengalaman dunia Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul dalam sanubari jiwanya Adakah arti kehidupan di luar dari semua kebiasaan yang membosankan Adakah nilai diri selain menjadi budak dari perjalanan dunia kefanaan Siapakah diri ini yang harus mengikuti kehendak Tuhan saja tanpa pilihan Dan perjalanan pencarian menemukan jawaban pun mulai dijejakkan Sauh perahu berlayar menuju lautan kehidupan tuk temukan pelajaran Nakhoda yang sudah berpengalaman tak segan berbagi saran kehidupan Tiap nakhoda memiliki kadar pengalaman yang berbeda hadapi lautan Hati yang haus makna kehidupan belajar dengan mengharapkan tatapan Waktu bergulir membawa pengertian pada kehidupan luas bertambah tinggi Tak ubahnya batang padi yang menjulang menggapai ketinggian langit hati Sedikit demi sedikit ketinggian melupakan esensi pencarian awal tentang diri Pengetahuan yang banyak memabukkan jiwanya dan hilang ditelan pikiran ilusi Seorang sahabat yang terus menantikan kedatangan para pengelana tak diam saja Menyadari kemungkinan hilangnya sahabat hati di tengah terjangan gelombang maya Dia pun pergi menuju lautan yang sudah selesai diarungi untuk temukan sahabatnya Mengajaknya pulang dan mengingatkan rumah sebenarnya bukan lautan di dunia fana Tak mudah mengajak seseorang ketika kepalanya terisi begitu banyak pengetahuan Dulu dia begitu terbuka tuk belajar sekarang dia menganggap guru sejati kehidupan Sahabat tetap mengajaknya pulang karena anak isteri menunggu kedatangan tuan Mengapa terus berteriak di lautan bila di rumah menanti harta yang membahagiakan Kembalilah pulang ke rumah dan kembalilah pada yang sederhana dalam hidup ini Bangun pagi menyiapkan segala keperluan anak dan istri sembari mulut ini bernyanyi Melayani telah ditetapkan pada setiap hati tidak jauh dari keberadaan rumahnya sendiri Yang dicari telah ditemukan dan sudah waktunya berdendang bersama keluarga sendiri Pulanglah sahabat dari keriuhan pengetahuan dan ketinggian yang menyilaukan jiwa Kembalilah bersama kesederhanaan dan kesahajaan yang menunggu panutan jiwa Mereka menanti dengan mata penuh arti mengharap dirimu pulang tuk ajari nirwana Ingatlah kepergianmu adalah janjimu untuk pulang tidak sendiri tapi bersama mereka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar