Selasa

Cinta Adalah emosi alamiah kita

Oleh : Neale Donald Walsch Cinta adalah Emosi Alamiah kita. Jika cinta dibiarkan untuk diekspresikan, dan diterima, oleh anak- anak, secara normal dan alamiah, tanpa batasan atau kondisi, hambatan atau rasa malu, cinta tidak memerlukan hal-hal lain lagi. Cinta yang diungkapkan dan diterima dengan cara seperti ini telah mencukupi. Namun cinta yang bersyarat/ dikondisikan, terbatas, diselubungi oleh aturan dan peraturan, ritual dan pembatasan, dikendalikan, dimanipulasi, dan ditahan, menjadi tidak wajar. Anak-anak yang diajarkan untuk merasa bahwa cinta alami mereka tidak baik– sehingga salah mengekspresikannya , dan ternyata mereka bahkan tidak merasakannya– akan mengalami waktu yang sulit dalam berurusan dengan cinta pada masa dewasa. Cinta yang terus ditekan akan menjadi posesif, emosi yang sangat tidak alamiah. Banyak orang telah terbunuh karena posesif. Perang dimulai, negara- negara jatuh. Banyak orang yang suka jatuh cinta. Namun“cinta” adalah kata yang agung. Ini adalah kata teragung dalam bahasa. Bahasa apapun. Apakah sesungguhnya cinta ? Dikatakan dalam buku CWG bahwa cinta adalah sebuah keputusan, bukan sebuah reaksi. Mungkin ini adalah salah satu hal yang paling penting yang bisa dikatakan pada subjek tersebut. Cinta sejati tidak pernah merupakan hasil dari bagaimana orang lain berpenampilan, berperilaku, atau berinteraksi dengan kita. Ini adalah pilihan kita untuk mencintai tidak peduli bagaimana yang lain berpenampilan, berperilaku atau berinteraksi dengan kita. Ini tidak berarti bahwa cinta yang sejati mengharuskan kita untuk bertahan dalam hubungan yang menyakitkan. Jangan mencampuradukkan kata-kata“cinta” dan “hubungan.” Kita tidak membuktikan mencintai seseorang dengan tetap bertahan dalam sebuah hubungan yang menyakitkan. Tentu saja, ada banyak contoh yang membuktikan bahwa kita mencintai mereka hanya dengan meninggalkan mereka. Jadi tidak benar bahwa cinta menyuruh kita menerima pelecehan dari orang yang kita cintai. Jika seseorang menyiksa kita, adalah sama kejamnya kita pada orang tersebut untuk membiarkan pelecehan tersebut berlanjut. Karena jika kita membiarkan pelecehan tersebut terus berlanjut, apa yang bisa kita ajarkan pada mereka? Namun jika kita dengan tegas menyatakan bahwa penyiksaan tersebut tidak dapat diterima, apa yang kemudian harus mereka pelajari? Tentu saja, benar bahwa tidak ada seorangpun yang bisa benar-benar “keluar” dari sebuah hubungan. Kita selalu berada dalam hubungan satu sama lain, dan satu- satunya yang berubah adalah bentuk dari hubungan tersebut. Anda tidak dapat mengakhiri suatu hubungan, Anda hanya dapat mengubahnya. Jadi jangan berpikir untuk mengakhiri hubungan Anda, tetapi berpikirlah untuk merubah itu. Anda mungkin ingin mengubah bentuknya, atau Anda mungkin ingin bertahan pada bentuk sebelumnya, tetapi mengubah karakteristik dalam bentuk hubugan itu. Memilih untuk mencintai seseorang —dengan sungguh- sungguh mencintai mereka— adalah tindakan yang sangat mulia. Ini adalah tanda dari seorang Guru. Mencintai seseorang sebagai“reaksi” adalah bukan tindakan seorang Guru. Ini adalah tindakan seorang murid. Bahaya dari mencintai seseorang sebagai reaksi adalah bahwa yang kita cintai bisa saja berubah. Bahkan, itu adalah kepastian bahwa mereka akan berubah. Mereka mungkin bertambah, atau kehilangan berat badan. Kepribadian mereka mungkin telah berubah. Mereka mungkin telah mengubah ide-ide mereka tentang sesuatu yang penting bagi kita. Dan jika kita mencintai berdasarkan apa yang orang lain berikan kepada kita dalam hubungan, kita akan mendapatkan kekecewaan besar. Jadi kita mengetahui kebenaran besar kedua tentang semua ini: cinta bukanlah apa yang orang lain berikan kepada Anda, ini adalah tentang apa yang Anda berikan kepada orang lain. Memang, tujuan dari semua hubungan cinta adalah untuk memberikan kita kesempatan untuk memutuskan dan menyatakan, untuk menjadi, untuk menunjukkan, dan untuk mengalami, siapa diri kita sesungguhnya. Ini mungkin cara lain untuk menegaskan kembali kebenaran pertama, karena siapa diri kita sesungguhnya adalah pilihan, bukan reaksi. Ini adalah keputusan, bukan reaksi– meskipun kebanyakan orang masih berpikir sebaliknya. Buku A Course in Miracles mengatakan,“Tidak ada hubungan yang spesial.” Dengan kata lain, tidak ada seorangpun yang lebih spesial bagi kita daripada yang lain. Itu adalah bagaimana Tuhan mengalami cinta. Tidak terkondisi, dan tidak ada yang lebih istimewa daripada yang lain. Sulit bagi kebanyakan orang untuk memahami hal ini. Bagaimana Tuhan bisa mengasihi kita semua secara sama, mengasihi orang yang“baik” dan “jahat” dengan sama? Hal ini karena Tuhan tidak melihat kita sebagai“baik” atau “jahat.” Kita semua sudah sempurna di mata Tuhan, tidak peduli bagaimana kita berperilaku. Ini adalah perjalanan panjang umat manusia hingga akhirnya mereka mengklaim cinta yang bersyarat tersebut. Sebagian besar dari kita kemudian menempatkan syarat-syarat pada rasa cinta kita, dan kita dengan sangat cepat menarik kembali cinta tersebut ketika kondisi tersebut tidak terpenuhi. Jadi kebenaran besar ketiga tentang cinta adalah bahwa ia tidak terkondisi/ tidak bersyarat. Tidak ada perkataan “Saya mencintaimu JIKALAU …” dalam dunia Tuhan. Kebenaran besar yang keempat tentang cinta adalah bahwa ia tidak mengenal batas. Cinta adalah kebebasan, pengalaman. Kebebasan total dan mutlak. Dan seseorang yang mengasihi yang lain tidak pernah berusaha untuk membatasi atau membelenggu yang lain dengan cara apapun. Ini adalah hal yang sulit bagi kebanyakan orang. Bagi kebanyakan orang, cinta biasa diterjemahkan, secara kasar, menjadi “kepemilikan.” Bukan berarti ini pernah diungkapkan, tentu saja. Itu hanya dirasakan. Ini adalah rasa“kamu adalah milikku.” Tentu saja, dalam cinta sejati ini adalah jauh dari kebenaran. Dan dalam cinta sejati, ide-ide atau pikiran seperti itu tidak pernah merupakan bagian dari paradigma. Tidak ada yang berhak memiliki siapa pun. Sekarang saya akan memberikan kebenaran kelima, dan mungkin yang paling “kontroversial,” kebenaran tentang cinta yang saya ketahui. Cinta tak pernah mengatakan tidak. Tidak peduli apa keinginan dari yang dicintai, cinta selalu mengatakan ya. Ini tidak berarti bahwa pendapat pribadi tidak diungkapkan, atau preferensi pribadi diumumkan. Tapi, pada akhirnya, permintaan dari cinta tidak pernah ditolak. Sekali lagi, ini adalah hal yang sulit bagi banyak orang untuk lakukan. Namun ini adalah cara yang Tuhan mengasihi kita. Saya sering mengatakan bahwa Tuhan hanya memiliki satu kata dalam kosakata-Nya. Tuhan selalu mengatakan ya. Tidak peduli apa yang Anda inginkan, tidak peduli apa yang Anda pilih, Dia tidak pernah mengatakan tidak. Ide ini dapat dikurangi menjadi dua kata: Tuhan memberikan. Conversations with God memberitahukan kita bahwa kata “Tuhan” dan “cinta” dapat dipertukarkan, Anda kemudian bisa mengatakan,“cinta adalah memberi.” Pada akhirnya, itulah yang cinta lakukan. Cinta memberikan. Tidak pernah membatasi, tidak pernah berhenti, hanya memberikan. Dalam hubungan cinta sejati, Anda bisa memiliki apa yang Anda inginkan. Kebenaran keenam tentang cinta adalah bahwa cinta selalu memperbaharui dirinya sendiri. Tidak pernah habis. Ini sangat bermanfaat ketika kita melihat sesuatu seperti itu terjadi! Seolah-olah cinta itu sendiri menjadi berlipat ganda dengan sendirinya, dengan kita sebagai instrumennya. Dan Anda juga bisa, sama, berfungsi sebagai instrumen pelipat ganda Cinta. Dengan setiap pemikiran yang Anda pikirkan, dengan setiap kata yang Anda ucapkan, dengan setiap tindakan yang Anda lakukan. Cinta adalah emosi yang alamiah. Ketika kita mampu untuk mengekspresikan sepenuhnya di setiap hari dalam segala hal, kita menjadi hidup, melalui pengalaman langsung tentang siapa diri kita sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar